Hannah Al Rashid mudik ke London untuk film “Exiled: The Chosen Ones”


London (LGMI NEWS) – Aktris, model serta pembawa acara Indonesia, Hannah Al Rashid (34) kelahiran London, akhirnya bisa unjuk kebolehannya dalam film laga “Exiled: The Chosen Ones,” diproduksi Silent D Pictures dan Rocket Sky High Motion Pictures dari Inggris.

“Ini pengalaman pertama syuting film feature di UK, sebelumnya pernah syuting film pendek,” ujar Hanna kepada LGMI NEWS London, Minggu.

Hanna adalah putri Aidinal Al Rashid asal Sulawesi dan Anne Marie Al Rashid dari Prancis yang hijrah ke Indonesia karena ingin bekerja di UNDP (United Nations Development Program) namun terdampar sebagai model video clip dan akhirnya menjadi artis dan model serta pembawa acara.

Dalam film yang dibintangi aktor laga asal Singapura, Sunny Pang, Hanna dinominasi sebagai pameran utama wanita terbaik di “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” mengaku keterlibatannya dalam film “Exiled: The Chosen Ones” sebagai pengalaman seru.

Sutradara Ranjeet S. Marwa dari Rocket Sky High Motion Pictures mengatakan ia sangat menggemari Hannah sejak pertama melihatnya di film ‘The Night Comes For Us’ karya Timo Tjahjanto.

“Sunny dan Hannah mengenal satu sama lain dengan baik dan ketika ada kesempatan bisa bekerja dengan mereka pun tidak disia-siakan,” ujarnya dan diharapkan film ini melampaui ekspektasi semua orang karena tidak ada film yang dibuat sebelumnya di Inggris.

Baca juga: Acha Septriasa syuting “Daemon Mind” di Inggris

Baca juga: Hannah Al Rashid bicara soal kesetaraan gender di industri film

Hannah yang baru pertama kali terlibat dalam pembuatan film di Inggris mengaku bekerja sama dengan sutradara sangat profesional. “Walaupun jumlah crew-nya kecil dibandingkan film feature di Indonesia, tapi semuanya baik dan professional,” ujar Hannah yang pernah membintangi acara komedi di televisi “Awas Ada Sule”.

Film diproduksi Djonny Chen bersama Gurnam S. Marwa dan Nick Khan serta Ranjeet S. Marwa itu, Hanna mengaku dunia perfilman di Indonesia di masa pandemi saat ini cukup menyedihkan.

Banyak rekan se-profesi dan juga industri perfilman baik yang di depan kamera maupun di belakang kamera mengalami kesulitan karena banyak produksi ditunda dan bahkan di-cancel, ujar Hanna.

Selain itu ia juga merasa sedih melihat banyak film yang dibintangi rekan-rekannya sudah jadi, tapi belum dapat ditayangkan karena bioskop masih belum dibuka.

 

Hannah Al Rashid (HO)


Sejak pandemi COVID-19 merebak di dunia, Hannah mengaku ada juga produser film di Indonesia yang mulai produksi tentunya dengan protokol kesehatan seperti rapid atau swab test untuk semua tim.

Proses film di Inggris juga mengikuti protokol kesehatan, termasuk di lokasi disiapkan masker, face shield dan antibacterial spray, ujarnya.

Hanna yang pernah menjadi juri di acara Stand Up Comedy Academy mengaku banyak pengalaman yang berkesan selama pengambilan gambar yang dilakukan di Birmingham seperti ngobrol bersama crew soal pengalaman masing-masing dan banyak belajar dari mereka.

“Saya sadar juga betapa positif insan film di Inggris dan reaksi terhadap film Indonesia terutama genre action, karena mereka sempat lihat beberapa film seperti ‘Headshot dan The Night Comes For Us’ di Netflix,” ujar Hanna menambahkan mereka banyak bertanya soal proses pembuatan dua film tersebut.

“Senang sih mendengar mereka sangat apresiasi pada pembuat film Indonesia yang karyanya dapat diakses melalui platform international seperti Netflix. Ternyata di mata crew UK, film makers Indonesia yang menghasilkan film genre action yang paling seru di dunia selalu ditunggu karya selanjutnya.

“Sebagai aktris yang sering main di genre itu, dan tau betapa melelahkan dan ribet syuting film action, jadi merasa senang dan bangga saat crew sini bilang begitu,” ujar Hanna yang tidak pernah bercita-cita untuk menjadi pemain film, namun sejak remaja nonton film Indonesia lewat koleksi VCD/DVD milik ayahnya, Aidinal Al Rashid, pesilat yang pernah menjadi Ketua Silat di Inggris.

“Saat pindah ke Indonesia dan mulai kerja di industri entertainment, saya sadar jauh lebih ingin masuk industri perfilman daripada TV, karena dari dulu memang suka film Indonesia,” kata dia.

Hanna mengakui saat ia ikut dalam film pertama yang disutradrai Joko Anwar, ia ketagihan dan ingin terus menjadi bagian dari film Indonesian.

“Saya bercita-cita ingin membawa film Indonesia ke Inggris. seperti tahun lalu ia sempat kurasi Films of the Archipelago untuk Deptford Cinema di South London dan membawa empat film Indonesia.

Mengenai film yang dibintanginya Hanna mengaku film “Exiled” seru, film action thriller dengan berbagai konsep yang experimental dan menjadi kolaborasi antara berbagai negara.

“Senang banget bisa kerjasama dengan Sunny Pang lagi, dan melihat dia bisa membagi ilmu tentang genre action di Asia dan diterima oleh crew UK dan sutradara Ranjeet dengan sangat baik.

“Para team UK sangat mau belajar dari pengalaman syuting action kami di Indonesia, jadi semoga ke depan akan ada lebih banyak kolaborasi antara Inggris, Indonesia dan Singapura,” ujarnya.

Sementara itu Djonny Chen dari Silent D Pictures film mengatakan film yang bercerita tentang pemimpin global yang akan memulai program baru dengan melegitimasi usaha dalam pertunjukan permainan.

Permainan akan disiarkan secara langsung, di mana kontestan secara acak akan diasingkan ke dalam hutan beton, dipaksa membunuh satu sama lain demi kebebasan mereka. Pemirsa akan bertaruh pada siapa yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup, demikian Djonny Chen, sutradara Indonesia yang berkiprah di Inggris.

Baca juga: Pesan Luc Besson untuk pembuat film muda Indonesia

Baca juga: “The Swordsman”, film Joe Taslim & Jang Hyuk, jadi pembuka KIFF 2020

Baca juga: FFI ungkap seluk-beluk dunia film lewat Podcast Cerita Sinema

Oleh Zeynita Gibbons
Editor: Alviansyah Pasaribu
LGMI NEWS 2020

Ingin Berkomentar?

//stawhoph.com/afu.php?zoneid=3065082